Menyimak dinamika perkembangan kehidupan berbangsa dan bernegara yang dikaitkan dengan gejolak sosial di masyarakat akhir-akhir ini, sebenarnya kondisi moral bangsa ini sudah sangat memprihatinkan. Rasanya sudah tidak ada lagi panutan yang dapat untuk kita jadikan sebagai suri tauladan dalam menyikapi kehidupan berbangsa dan bernegara yang nampaknya semakin hari semakin terpuruk. Kondisi ini terkesan dari sikap dan perilaku para birokrat pemerintah yang semakin kurang aspiratif terhadap berbagai tuntutan masyarakat dan sebaliknya masyarakatpun cenderung brutal dan anarkis dalam memperjuangkan haknya. Sehingga yang perlu kita prihatinkan bersama ialah mengapa kondisi yang demikian ini sampai terjadi, bahkan sudah melanda hampir seluruh lapisan masyarakat di negeri ini. Sebenarnya kalau boleh dikatakan inti permasalahannya adalah terletak pada kondisi moralitas bangsa , dimana sikap dan perilaku manusianya yang cenderung egois, sehingga rela mengorbankan nilai-nilai moralitasnya demi mewujudkan ambisi pribadinya. Tidak berlebihanlah kalau dikatakan bangsa ini sedang sakit dan kehilangan arah, karena rasanya sulit mencari figur pemimpin yang dapat digunakan sebagai panutan saat ini.
Kondisi pemimpin saat ini
Untuk memperbaiki kondisi moral bangsa yang sudah sedemikian parah ini sebenarnya perlu adanya gerakan moral dari para penguasa atau pemimpinnya. Gerakan moral ini kiranya hanya dapat dilakukan apabila ada kesadaran yang tulus dari para pemimpin bangsa ini yaitu dengan memberikan keteladanan dalam bersikap dan berperilaku yang mencerminkan figur seorang pemimpin sejati yang pantas untuk dijadikan sebagai suri tauladan. Ini sangat penting dilakukan oleh para pemimpin bangsa, karena bukan hanya dipakai sebagai suri tauladan, akan tetapi sekaligus dapat digunakan untuk menumbuhkan kesadaran dan nasionalisme masyarakat dalam membangun kehidupan berbangsa dan bernegara yang lebih mapan.
Namun sangat disayangkan, dan bukan berarti mengecilkan sikap para pemimpin bangsa, akan tetapi rasanya sulit untuk mencari figure seorang pemimpin yang dapat digunakan sebagai panutan saat ini. Ini jangan dirartikan bahwa di negeri ini tidak ada pemimpin yang dapat diteladani atau digunakan sebagai panutan, akan tetapi kalaupun ada mereka pada umumnya terpinggirkan atau termarginalkan oleh situasi dan kondisi yang saat ini lebih menonjolkan egoisme pribadi untuk mewujudkan ambisinya . Jadi tidak terlalu berlebihan kalau bangsa ini sedang mengalami krisis pemimpin panutan yang dapat digunakan sebagai suri tauladan bagi anggota maupun bawahannya.
Sehingga yang pantas untuk dipertanyakan ialah kenapa bangsa ini tidak mau belajar dari masa lalu dalam membangun moralitas bangsa. Banyak contoh keteladanan dimasa lalu yang masih relevan digunakan sebagai pedoman dalam kepemimpinan yang salah satu diantaranya adalah ajaran tokoh pendidikan nasional kita Alm. Ki Hadjar Dewantoro. Beliau adalah sosok kaum ningrat yang sangat konsen tehadap pendidikan tentang nilai-nilai moralitas dan keteladanan yang pandangannya tidak akan pernah lapuk dimakan usia maupun situasi jaman. Karena itu wajarlah kalau pemerintah memberikan penghargaan dengan menetapkan hari kelahiran Beliau tanggal 2 Mei dijadikan sebagai Hari Pendidikan Nasional yang setiap tahun diperingati oleh segenap lembaga akademisi di negeri ini.
Keteladanan Ki Hadjar Dewantoro
Ajaran kepemimpinan Ki Hadjar Dewantoro yang sangat poluler di kalangan masyarakat adalah Ing Ngarso Sun Tulodo, Ing Madyo Mbangun Karso, Tut Wuri Handayani. Yang pada intinya bahwa seorang pemimpin harus memiliki ketiga sifat tersebut agar dapat menjadi panutan bagi bawahan atau anak buahnya.
Ing Ngarso Sun Tulodo artinya Ing ngarso itu didepan / dimuka, Sun berasal dari kata Ingsun yang aratinya saya, Tulodo berarti tauladan. Jadi makna Ing Ngarso Sun Tulodo adalah menjadi seorang pemimpin harus mampu memberikan suri tauladan bagi bawahan atau anak buahnya. Sehingga yang harus dipegang teguh oleh seorang pemimpin adalah kata suri tauladan. Sebagai seorang pemimpin atau komandan harus memiliki sikap dan perilaku yang baik dalam segala langkah dan tindakannya agar dapat menjadi panutan bagi anak buah atau bawahannya. Banyak pimpinan saat ini yang sikap dan perilakunya kurang mencerminkan sebagai figur seorang pemimpin, sehingga tidak dapat digunakan sebagai panutan bagi anak buahnya. Sama halnya dengan Ing Madyo Mbangun Karso, Ing Madyo artinya di tengah-tengah, Mbangun berarti membangkitan atau menggugah dan Karso diartikan sebagai bentuk kemauan atau niat. Jadi makna dari kata itu adalah seorang peminpin ditengah kesibukannya harus juga mampu membangkitkan atau menggugah semangat kerja anggota bawahanya. Karena itu seorang pemimpin juga harus mampu memberikan inovasi-inovasi dilingkungan tugasnya dengan menciptakan suasana kerja yang lebih kodusif untuk keamanan dan kenyamanan kerja.
Demikian pula dengan kata Tut Wuri Handayani, Tut Wuri artinya mengikuti dari belakang dan handayani berati memberikan dorongan moral atau dorongan semangat. Sehingga artinya Tut Wuri Handayani ialah seorang komandan atau pimpinan harus memberikan dorongan moral dan semangat kerja dari belakang. Dorongan moral ini sangat dibutuhkan oleh bawahan, karena paling tidak hal ini dapat menumbuhkan motivasi dan semangat kerja.
Jadi secara tersirat Ing Ngarso Sun Tulodo, Ing Madyo Mbangun Karso, Tut Wuri Handayani berarti figur seorang pemimpin yang baik adalah disamping menjadi suri tauladan atau panutan bagi bawahan, tetapi juga harus mampu menggugah semangat dan memberikan dorongan moral dari belakang agar bawahan dalam melaksanakan tugasnya dengan ketulusan dan bukan paksaan.
Kepemimpinan di lingkungan TNI .
Di lingkungan kehidupan TNI, ajaran Ki hadjar Dewantoro ini bukanlah hal yang baru, sebab sudah menjadi bagian kehidupan sehari-hari bagi prajurit TNI. Lebih – lebih bagi anggota TNI yang memduduki jabatan komandan, baik dari komandan satuan terendah mulai Danru, Danton, Danki sampai pimpinan tertinggi di lingkungan TNI ajaran ini sudah melekat dihatinya. Mengapa demikian ? Karena ajaran ini sudah menjadi salah satu doktrin yang tertuang dalam sebelas azas kepemimpinan TNI. Bahkan Ing Ngarso Sun Tulodo, Ing Madyo Mbangun Karso, Tut Wuri Handayani telah menjadi prioritas utama yaitu azas ke 2, 3 dan 4 setelah azas yang pertama Taqwa.
Dalam implementasinya dilapangan , kepemimpinan sesuai azas 2, 3 dan 4 ini baru merupakan figur pemimpin yang secara fisik memang itu yang harus dilakukan. Untuk melengkapi kepemimpinannya masih perlu diikuti oleh langkah dan tindakan seperti yang tersirat dalam azas ke 5 sampai 11. Secara lengkapnya adalah sebagai berikut : Waspada Purba Wisesa sebagai azas ke 5 yang minitik beratkan pada kewaspadaan dalam pengawasan serta sanggup dan berani mengoreksi anak buahnya. Azsa ke 6 adalah Ambeg Parama Arta yang artinya sebagai seorang pemimpin harus dapat menentukan skala prioritas dengan tepat mana yang harus didahulukan. Azas ke 7 Prasaja, 8 Satya dan 9 Gemi Nastiti merupakan refleksi dari figur seorang pemimpin yang harus memiliki sifat kesederhanan, loyalitas kedua arah anatara atasan dan bawahan, dan berhemat dalam pengertian membatasi penggunaan dan pengeluaran segala sesuatu kepada yang benar-benar diperlukan. Sedang azas ke 10 dan 11 yaitu Belaka dan Legawa. Pada kedua azas ini lebih menekankan pada kerelaan, kemauan dan keberanian mempertanggung jawabkan tindakanya, serta kerelaan dan keikhlasan untuk menyerahkan tanggung jawab dan kedudukannya kepada generasi penerusnya.
Sebenarnya kalau setiap pemimpin bangsa ini ada kemauan untuk menerapkan atau mengimplementasikan ke 11 azas kepemimpinan ini dengan tulus, sudah dapat dipastikan bangsa ini tidak akan pernah mengalami krisis pemimpin panutan seperti sekarang ini. Namun sangat disayangkan azas kepemimpinan ini belum disosialisasikan di instansi dan lembaga pemerintah. Seandainya ini disosialisasikan di luar institusi TNI dan dapat dipahami, dihayati dan diamalkan oleh seluruh pemimpin di negeri ini, sudah tentu akan menjadi panutan yang baik sekali untuk menumbuhkan kesadaran masyarakat dalam pembangunan moral bangsa.