PASUKAN REAKSI CEPAT PENANGANAN BENCANA
Selasa, 15 Agustus 2006 00:00:00 - Oleh : puspen - Dibaca : 1926
Home » Opini » PASUKAN REAKSI CEPAT PENANGANAN BENCANA

         Berbagai peristiwa pilu yang diakibatkan oleh bencana alam sudah cukup banyak terjadi di Indonesia. Bencana tsunami di Aceh yang menelan lebih dari 200 ribu jiwa, bencana gempa tektonik di Yogyakarta, Jawa Tengah dan sekitarnya dengan korban lebih dari 5000 jiwa, gunung meletus, semburan awan panas gunung berapi, bencana alam banjir, angin topan, kekeringan, bencana karena pabrik semisal di  Porong Sidorarjo, dan berbagai bencana lainnya sudah terjadi di negeri ini.

Persoalan yang selalu muncul kemudian adalah bagaimana penanganan dan penanggulangan akibat bencana alam yang datangnya secara tiba-tiba itu. Dari berbagai persoalan akibat bencana, kemudian seringkali terjadi komplain kepada pemerintah melalui lembaga-lembaganya. Misalnya, soal adanya keterlambatan dalam pemberian bantuan, bantuan tidak merata, bahkan ada yang tidak memperoleh bantuan, dan seterusnya.

Salah satu institusi yang tak pernah sepi dari komplain semacam itu adalah TNI. Ketika bencana alam terjadi, TNI pernah (bahkan sering) ikut dituding terlambat memberikan bantuan. Nampaknya masih banyak pihak yang merasa senang bila pandai menuding intitusi TNI di saat-saat genting dalam penanganan bencana. Seakan tugas TNI menjadi badan penanggulangan bencana, melebihi atau mengambil alih tugas dan fungsi departemen lain dalam negara ini.

Memang dalam UU No 34/2004 tentang TNI disebutkan bahwa TNI memiliki tugas operasi selain perang, di antaranya adalah membantu menanggulangi bencana alam. Merujuk pada klausul ini, sebenarnya itu adalah tugas tambahan, karena sifatnya sebenarnya adalah membantu. Artinya, ada institusi lain yang seharusnya menjadi leading sector (penjuru) dalam mengatasi bencana alam semisal Departemen Sosial.

Namun demikian yang sering kita saksikan di sejumlah media massa, setiap kali bencana alam terjadi justru lembaga yang paling dikuyo-kuyo adalah TNI, sekalipun di setiap kali terjadi bencana sudah pasti TNI menjadi pihak yang paling terdahulu berada di lokasi untuk memberikan bantuan. Bahwa bantuan belum bisa maksimal karena kondisi dan tantangan medan yang harus dihadapi, namun tudingan nyinyir selalu tampil lebih dahulu yang sangat tidak sebanding dengan apa yang sudah dilakukan oleh para prajurit TNI di lapangan itu.

Menyikapi kejadian seperti ini, beberapa waktu silam muncul gagasan yang datang dari pihak Departemen Pertahanan, yang menggagas perlunya satuan reaksi cepat untuk penanggulangan bencana, di mana unsur prajurit TNI berada di dalamnya. Gagasan ini pernah dilontarkan oleh Sekjen Dephan, Letjen TNI Sjafrie Sjamsoeddin, beberapa hari pasca terjadinya bencana alam gempa bumi di Yogyakarta.

Tentu saja semua ini perlu dipikirkan dan memperoleh apresiasi mengingat negara kita kabarnya termasuk negara yang rawan bencana. Dan buktinya memang demikian, seperti kita lihat terjadinya berbagai bencana alam selama ini. Bila gagasan ini bisa diwujudkan, tentu akan sangat bagus dalam hal ada elemen yang jelas, riil, langsung untuk menjadi penjuru dalam menangani berbagai bencana alam yang terjadi di negeri ini.

Nampaknya gagasan yang berawal dari Dephan ini pun sudah menunjukkan siapa sebenarnya yang siap dan care terhadap penanggulangan atau penanganan masalah bencana alam, tak lain adalah TNI. Gagasan dan tindakan  antisipatif ini sekaligus membuktikan, bahwa sebenarnya TNI lebih memiliki kepekaan dan kepedulian secara riil terhadap masalah ini. Bila dibandingkan, sebenarnya pihak atau institusi mana sebenarnya yang harus lebih dahulu meng-handel  masalah ini.

Oleh karena itu bila memang tak ada lagi institusi lain dalam pemerintahan ini yang peduli kepada bencana alam (kecuali hanya tuding sana-sini), kita mempercayakan sepenuhnya kepada TNI tanpa harus memberi prasangka-prasangka yang selalu negatif. Selain dipayungi oleh undang-undang (walaupun sifatnya membantu), secara nyata gerakan atau mobilisasi bantuan yang dilakukan oleh TNI selalu lebih mudah dan langsung ke sasaran. Nampaknya sudah menjadi  tradisi  bila TNI lebih banyak bekerja daripada sekedar berwacana, sehingga hasilnya nyata dalam penanganan setiap kali bencana alam.

 Pasukan reaksi cepat ini nampaknya menjadi khas tentara, di mana TNI juga memiliki satuan PPRC (Pasukan Pemukul Reaksi Cepat) yang unsurnya dari ketiga angkatan di TNI. Model ini merupakan rujukan yang tepat, sehingga nantinya bila terjadi bencana (mudah-mudahan tidak terjadi), maka secepat itu pula pasukan reaksi cepat itu bergerak dan menjadi penjuru dalam penanganan bencana alam.

Tentu saja namanya satuan ini harus disesuaikan, misalnya Pasukan Reaksi Cepat Penanggulangan Bencana Alam, atau apapun namanya. Yang penting ada unsur yang siap bergerak setiap saat ketika bencana alam terjadi secara tiba-tiba. Mereka harus disiapkan  dalam struktur yang jelas, dengan segala alat peralatan, perlengkapan, dan dukungannya, mengingat satuan ini menjadi pasukan yang serba harus cepat dan tahan banting dalam melakukan tindakan pertama untuk penanganan bencana alam.

Gagasan ini nampaknya juga sudah menjadi pemikiran di kalangan TNI. Buktinya Mabes TNI juga sudah melakukan rapat pimpinan terbatas untuk membahas masalah ini. Panglima TNI mengemukakan bahwa TNI sudah dan selalu berbuat sesuatu sejak awal terjadinya bencana hingga pasca penanggulangan bencana. Tetapi komentar miring kerap dialamatkan ke TNI seolah TNI lambat bertindak atau kurang tanggap. Komentar semacam itu tak perlu ditanggapi dan tak boleh menyurutkan semangat dalam membantu sesama warga bangsa yang membutuhkan pertolongan, melaksanakan tugas sebagai pengabdian TNI kepada masyarakat.

Ini menunjukkan apapun yang dilakukan oleh TNI sebenarnya tidak akan terpengaruh oleh tanggapan miring sementara pihak di masyarakat. Dan memang sikap seperti ini harus dilakukan oleh TNI, sebab bila surut kepada sikap sementara masyarakat yang memandang miring dengan apa yang dilakukan TNI, maka TNI pada akhirnya justru tidak bekerja, dan masyarakat yang menjadi korban yang akan menjadi lebih menderita.

Karenanya, apapun bentuknya dan apapun namanya, bila gagasan adanya pasukan reaksi cepat untuk penanggulangan bencana alam bisa diwujudkan, hal itu akan sangat positif. Kita yakin, masyarakat akan sangat menyambut baik, selain TNI sudah memiliki sarana yang dengan mudah bisa dimobilisasi dengan struktur, personel, sarana, perlengkapan dan dukungan yang jelas dalam melaksanakan tugas bantuan, khususnya dalam penanganan bencana alam.

Baca "Opini" Lainnya

Disiplin, Militansi, Semangat Nasionalisme, Patriotisme dan Nilai-Nilai Luhur Bangsa Menuju Indonesia Yang Merdeka, Bersatu, Berdaulat, Adil Dan Makmur Perlu Lebih Ditingkatkan

Panglima TNI Jendral Moeldoko

Pengumuman

Minggu, 12 Oktober 2014
PENERIMA PENGHARGAAN INOVASI PANGLIMA TNI 2014
Selasa, 5 Februari 2013
Lambang Mabes TNI Yang Baru
Kamis, 31 Mei 2012
Call Center

Polling

Informasi apa yang paling Anda butuhkan dari website ini ?

 
AGENDA KEGIATAN
pendidikan
patriot
download
download
download
persyaratan
beasiswa
PSDP
LPSE
pendidikan

Video TNI