MENGENAL “MACAN TERBANG� SKADRON UDARA 14
Selasa, 3 April 2007 00:00:00 - Oleh : puspen - Dibaca : 2650
Home » Opini » MENGENAL “MACAN TERBANGâ€? SKADRON UDARA 14

Skadron Udara (Skadud) 14 adalah salah satu skadron pesawat jet tempur yang dimiliki TNI Angkatan Udara. Kelahirannya berhubungan dengan Operasi Trikora untuk mengusir penjajah dari bumi Irian Barat (Papua), namun keberadaannya masih banyak tidak diketahui masyarakat. Bahkan nama skadron juga banyak yang masih bingung mengartikannya.

  Skadron Udara 14 yang lahir pada tanggal 1 Juli 1962 dengan home base di Pangkalan Udara Iswahjudi Maospati, Magetan, Madiun Jawa Timur, berdasarkan Skep Men/KSAU, Nomor: Skep/135/VII/1962 tanggal 1 Juli 1962, tentang pembentukan Skadron Udara 14 dengan kekuatan pesawat MiG-21 F buatan negara Blok Timur, dengan komandan pertamanya Mayor Udara Roesman.

  Dalam rangka persiapan pendidikan penerbang-penerbang baru di Skadron Udara 14, diadakan dua program latihan yaitu program luar negeri dan program dalam negeri. Untuk program luar negeri AURI mengirim empat penerbang ke Rusia untuk mengawaki MiG-21 F pada tahun 1961.

  Sedangkan yang dididik di dalam negeri diantaranya adalah Mayor Udara Roesman yang kemudian menjadi Komandan Skadron dan masih aktif terbang dengan MiG-17 yang terlebih dahulu datang ke Indonesia.

  Pesawat MiG-21 F dibeli dari Rusia sebenarnya dalam rangka pelaksanaan Operasi Trikora, namun saat tiba di Indonesia pada tahun 1962 konfrontasi dengan Belanda di Irian Barat telah surut, sehingga peran yang sempat dimainkan hanya sebagai detterent saja terhadap pihak musuh pada saat Operasi Trikora.

  MiG-21 F belum pernah merasakan aroma daerah pertempuran, akan tetapi kehadirannya bukan tidak berarti sama sekali, justru keberadaannya saat itu yang membuat Belanda gentar untuk menghadapi pertempuran secara terbuka, karena Indonesia (AURI) didukung dengan sejumlah pesawat jet tempur lainnya buatan negara-negara Eropa Timur seperti pembom TU-16/ TU-16KS, MiG-17, MiG-19, dan IL-28 Ilyusin.

  Skadron Udara 14 justru kemudian terlibat dalam Operasi Dwikora yang dikenal dengan “Operasi Ganyang Malaysiaâ€? yang dikumandangkan oleh Bung Karno.

  Dengan dibekukannya hubungan diplomatik dengan Rusia pada tahun 1967 yang berefek pada menuju ambang kehancuran Skadron Udara 14, namun para teknisi menjalankan kanibalisasi untuk dapat mengoperasikan pesawat agar tetap dapat terbang walaupun hanya bertahan beberapa waktu.

  Pada tanggal 5 November 1971 berdasarkan Surat Perintah Kasau Nomor: Print/225/II/KSAU tentang pembentukan Tim Garuda Bangkit dalam rangka proses penerimaan pesawat F-86 Sabre dari Pemerintah Australia.

  Pesawat F-86 Sabre saat itu tergolong tua dalam usia, namun kemampuan pesawat ini untuk melakukan maneuver pertempuran udara (dog fight) pada high altitude sangatlah baik dibandingkan dengan pesawat F-5 Tiger yang memiliki kemampuan terbaik pada ketinggian 20.000 kaki ke bawah. Sebaliknya F-86 Avon sabre ini tempat dog fight  di atas 20.000 kaki ke atas. Walau hanya dilengkapi dengan peralatan navigasi yang sangat sederhana berupa ADF, pesawat ini dapat mendarat di seluruh Pangkalan TNI AU dari Sabang sampai Merauke.

  Pada awal era tahun 1980-an TNI Angkatan Udara mendatangkan pesawat jenis F-5 Tiger II buatan Northrop dengan menggunakan pesawat C-5 Galaxy milik Military Airlift Command USAF yang mendarat di Lanud Iswahjudi pada tanggal 21 April 1980. Pesawat yang dibeli dari Pemerintah Amerika melalui program Foreign Military Sales (FMS) dan Military Assistence Program (MAF) tersebut tiba di Lanud Iswahjudi dalam bentuk terurai dan dirakit kembali di Skadron Udara 14 yang berada di bawah jajaran Wing 300.

  Proses perakitan berjalan lancar, sehingga pada tanggal 28 April 1980 F-5F dengan Nomor TL-0514 yang berkursi ganda berhasil melakukan uji terbang untuk pertama kalinya di Indonesia yang diterbangkan oleh Kapten Bill Edward dan Kapten Tom Danielson selaku penerbang uji dari USAF. Registrasi TL (Tempur Latih) yang terpasang pada tail itu karena pesawat mempunyai kursi ganda untuk melatih para siswa yang akan menerbangkan pesawat tempur F-5 Tiger, selanjutnya penomoran registrasi pada tahun 2000 diganti seluruhnya menjadi TS (Tempur Strategis).

Pada tanggal 5 Mei 1980 penggunaan pesawat F-5 Tiger E/F Tiger II diresmikan oleh Menhankam/ Pangab Jenderal M.Yusuf, sebagai pesawat buru sergap TNI Angkatan Udara menggantikan F-86 Avon Sabre. Dan pada bulan Juli 1980 Pesawat C-5 Galaxy mendarat kembali di Lanud Iswahjudi mengangkut kekurangan F- 5 yang dibeli dari Northrop Co USA, sehingga Skadron Udara 14 memiliki kekuatan penuh hingga Skadron Tempur F-5 E/F Tiger II.

Pesawat F-5 Tiger yang dilengkapi dengan segala kelengkapan peralatannya, mengawali gairah para penerbang di Skadron Udara 14. Latihan dan operasi udara menjadi penghias kalender kegiatan Skadron. Dengan dilengkapi Rudal udara ke udara side winder menjadikan F-5 Tiger satu-satunya pesawat buru sergap Angkatan Udara pada saat itu.

Hingga saat ini F-5 Tiger II masih menjadi tulang punggung TNI Angkatan Udara sebagai pengawal Ibu Pertiwi serta beberapa penerbangnya menjadi pucuk pimpinan Angkatan Udara bahkan TNI diantaranya Marsekal TNI Djoko Suyanto yang kini menjabat Panglima TNI.

Baca "Opini" Lainnya

Disiplin, Militansi, Semangat Nasionalisme, Patriotisme dan Nilai-Nilai Luhur Bangsa Menuju Indonesia Yang Merdeka, Bersatu, Berdaulat, Adil Dan Makmur Perlu Lebih Ditingkatkan

Panglima TNI Jendral Moeldoko

Pengumuman

Polling

Informasi apa yang paling Anda butuhkan dari website ini ?

 
AGENDA KEGIATAN
pendidikan
patriot
download
download
download
persyaratan
beasiswa
PSDP
LPSE
pendidikan

Video TNI