3f804abd95730c82e6217735dd3ebf6a.jpg  

Edi Sudrajat Prajurit Sejati

Selasa, 5 Desember 2006 00:00:00 - Oleh : puspen - Dibaca : 6120 kali

Jenderal Edi Sudrajat telah tiada. Selama menjadi pucuk pimpinan Angkatan Darat, entah malam atau siang, ada sejumlah tindakan yang kadang dilakukan, membuat bawahan takjub, terutama pengecekan di lapangan guna mengetahui hal-hal teknis yang diperlukan prajurit.

Ada kisah yang amat mengesankan, terjadi hampir 20 tahun lalu di kawasan pegunungan Timor Timur (kini Timor Leste). Dalam kegelapan malam, di tengah-tengah bivak Posko Mobile Yonif 514, membayang suatu sosok. Dengan cepat saya bersiap mendekat untuk mengetahuinya. Ternyata itu adalah Jenderal TNI Edi Sudrajat, Kepala Staf TNI AD (KSAD). Jenderal ini datang untuk mengecek, sekaligus mengetahui hal-hal teknis yang langka "disentuh" pucuk pimpinan Angkatan Darat. Saat itu saya menjabat Komandan Batalyon 514 Kostrad, berpangkat letnan kolonel.

Kunjungan Jenderal Edi ke daerah bergolak sungguh tidak terduga. Keputusan untuk meninjau pasukan saya, justru ketika kami sedang mobile, terus bergerak dalam tugas operasi. Pada kesempatan expose komandan batalyon, Pak Edi tidak hanya bertanya dan mengecek hal-hal taktis, tetapi juga menyentuh soal teknis mendasar. Pria kurus ini juga menanyakan "Cumemu" (cuaca, medan, musuh) dengan rinci.

Tentang musuh, pertanyaannya amat teknis, tentang siapa saja pimpinan kelompok bersenjata lawan yang ada di sektor Yonif 514, di mana tempat persembunyian, apa kebiasaan klasiknya, dan sebagainya.

Ihwal medan, banyak hal ditanyakan terkait lima aspek medan (medan kritis, jalan pendekat, rintangan, "lindung tinjau dan lindung tembak", "lapang tinjau dan lapang tembak"). Tak luput juga ditanyakan kondisi pasukan, terutama teknik gerakan pasukan, disiplin tempur, perhubungan, dan sebagainya.

Jenderal yang dikenal sebagai orang lapangan dan sederhana itu memutuskan untuk bermalam bersama di Posko Mobile satuan kami, semacam bivak (tenda) beralas jerami alang-alang dan beratap ponco.

Mengingat pasukan kami sedang bergerak dalam operasi tempur, selaku komandan saya menarik tiga tim guna pengamanan dan perlindungan terhadap Pak Edi dan staf (beberapa jenderal). Untuk itu, saya sendiri memimpin dengan berjaga bersama tim pengaman.

Di tengah kegelapan malam itu Jenderal Edi keluar dari bivak, terjadilah apa yang dikisahkan di awal tulisan. Lagi-lagi ditanyakan aspek-aspek teknis.

Dengan penuh hormat dan apresiasi tinggi, saya menuangkan obituari ini sebagai ekspresi rasa bangga, kagum, dan respek terhadap Pak Edi. Pengalaman itu hanya satu titik yang mencerminkan watak keprajuritan beliau sebagai perwira sejati, ksatria yang berwatak teguh hati, dan memegang teguh pendiriannya.

Jiwa heroik dan keberanian adalah salah satu pantulan karakter Pak Edi. Bagi banyak prajurit TNI, sosok Edi Sudrajat selaku perwira militer profesional, memancarkan wibawa dari karakter yang kuat dan tangguh. Ia merupakan cermin sekaligus figur teladan bagi prajurit, yang mungkin sulit ditemukan lagi.

Pak Edi lebih dikenal sebagai perwira lapangan daripada "perwira politik", berorientasi kuat pada pencapaian profesionalisme militer sebagai tujuan hakiki yang harus dicapai TNI, setidaknya AD. Karena itu dapat dipahami bila saat menjabat KSAD beliau meninggalkan catatan penting bagi sejarah AD, agar TNI kembali ke dasar. Back to basic!

Memang niat dan ikhtiar itu diinterpretasikan secara beragam. Namun, yang jelas dikehendaki Pak Edi adalah mengembalikan pamor TNI (AD) sebagai tentara yang kuat, berkualitas, dan profesional sambil tetap berkarakter sebagai tentara rakyat dan tentara pejuang.

Dalam kebijakan back to basic diluncurkan serangkaian program di bidang pendidikan, pembinaan, dan latihan, mulai dari hal-hal fundamental, yakni permildas (peraturan militer dasar) seperti peraturan disiplin militer, peraturan penghormatan militer, peraturan urusan dalam, dan sebagainya. Kemampuan teknis dasar militer, seperti menembak, gerakan perorangan, menyamar, mengesan jejak, navigasi darat, dan seterusnya.

Dalam rangka itu, dikeluarkan kebijakan guna meningkatkan kuantitas dan kualitas pelatih, hal amat penting, elementer, dan menentukan dalam membentuk tentara yang tangguh. Dengan konsep itu diharapkan latihan tersebar di seluruh jajaran AD.

Tentu tidak cukup merefleksikan keistimewaan kemampuan militer, kekuatan karakter, dan ketangguhan kepemimpinan Pak Edi hanya dalam obituari ini. Namun, perwira tempur yang andal dan prajurit lapangan yang hebat itu patut dihargai, dibanggakan, dan dihormati. Kualitas kepribadian dan keperwiraan Pak Edi patut diapresiasi dan seyogianya dibentuk dalam diri setiap kita yang masih harus berjuang untuk bangsa-negara ini.

Jenderal Edi telah berpulang. Pengabdiannya kepada bangsa ini telah selesai saat jenazahnya dimasukkan ke liang lahat. Raganya menyatu kembali dengan Ibu Pertiwi yang diabdi selama hidup, jiwanya berpulang ke haribaan Ilahi. Namun, etos perjuangannya hendaknya terus dilanjutkan. Selamat jalan, Jenderal!

Smiley face
 
Panglima TNI bertekad membangun prajurit yang profesional, disiplin, militan dan rendah hati
Marsekal TNI Hadi Tjahjanto, S.IP
Pengumuman
Siaran Pers
Amanat
Berita Media
Jum`at, 3 September 2021
Panglima TNI Raker di Komisi I DPR RI
Jum`at, 23 Juli 2021
Panglima TNI Serahkan Bantuan Tabung Oksigen dan Alkes kepada Masyarakat Papua
Selasa, 8 Juni 2021
Pekuat Pelaksanaan PPKM Berskala Mikro di Daerah, Tim Gabungan TNI dan Polri Dilibatkan
Kamis, 27 Mei 2021
Panglima TNI dan Kapolri Kembali Kunjungi Papua
Selasa, 27 April 2021
Panglima TNI Sambut Kedatangan Jenazah Kabinda Papua di Bandara